Tuesday, 16 November 2010

tidak tahu!

jangankan sengsara, mencandui mati saja aku sudah pernah.
terlalu sering.

dan akal tergerus entah kemana,
namun kesadaran selalu tiba.
sadar untuk menjadi ada atau tiada.

padahal sosok itu tidak akan kemana-mana
padahal aku hanyalah aku yang sedang lupa
padahal bukan hanya mereka yang meradang
hati ini juga obesitas.
oleh amarah.

mau jadi apa hidup?

Tuesday, 31 August 2010

yang tak berujung

aku ingin lari.
bukan darimu, namun dari sakit itu.

kau lahirkan mimpi buruk dan insomnia
layaknya kentut letuskan amoniak
dan aku terkubur hidup-hidup
diatas pendirianmu

mari berlari.
ataukah kita rapatkan diri?

tak bisa lagi, serumu dingin dan keji.
kau kemanakan itu semua.
cinta dan cinta?
mungkin tergusur masuk TPA
tanpa bisa didaur ulang.

aku bukan anjing,
tak diajari mengais sampahmu
meski kelaparan oleh sisa hati itu.

jadi aku tetap berlari
kehabisan udara
sementara kau cuma bilang "sorry"
seolah itu berjasa

Ha!

hujan besar semalam

persis, kaya mulutmu
yang cuma omong doang.

Sunday, 29 August 2010

memanggil dosa

kau tahu aku cinta
lebih dari yang dahulu kala
ketika sambungan telpon menjadi sekedar jeda
dari kebosanan rupa

lalu aku melampaui itu
semacam mercusuar yang menganga
mencekoki tawaran surga
namun kau tanggap,
aku menjinjing kau pada neraka

aku luluh
lebur
dan membilur
menangis tertawa diantara keterasingan kau
akan diri sendiri

kau bilang ingin aku tak ada lagi
kecuali aku bisa utuh
dan berpaling dari Kekasihku

aku tak bisa, sayang
cintaku pada-Nya lebih gaduh dari jerit kasur dimalam hari
dan aku tidak kenal Kekasihmu
tak mampu berpura-pura mencintai yang Satu itu
karena Ia intip hati semudah aku membuat kau berdiri

aku ingin mencintai tanpa syarat dan tradisi
meski telah kehilangan arti
kamu tetap menemuiku di sudut saru

baiklah...
habisi aku.

Monday, 9 August 2010

bukan karma

aku kehilangan seseorang lagi.
ya, kamu...

kamu yang sampai kemarin masih menemani makan es krim di musim dingin.

hang on there,
janji ya :)

Thursday, 5 August 2010

the love is gone

menurutmu lebih baik kita hidup dengan apa? bersama dengan orang yang mencintai kamu atau bersama dengan orang yang kamu cintai?

aku pikir, lebih baik bersama dengan orang yang mencintai kita. karena kita bisa mendapatkan apa yang kita berhak dapatkan.
tapi disisi lain, kemanakah kita mesti memanifestasikan rasa sayang, kalo ternyata cinta yang kita miliki tidak sebesar cinta orang yang mencintai kita?
maka kamu akan memilih untuk mencintai orang lain dan membiarkan orang lain mendapatkan apa yang berhak dia dapat, meskipun mungkin orang lain itu tidak mencintai kamu (atau belum).

jadi mana yang benar?

tidak ada.
bersamalah dengan siapapun yang membuat kamu bahagia. bila dengan mencintai (tanpa dicintai) bisa membuatmu bahagia, lakukanlah. dan bila dicintai (tanpa mencintai) bisa bikin kamu bahagia juga, lakukanlah.

tapi kamu mesti hidup dengan salah satunya.

diatas semua itu, hal paling indah adalah sepasang manusia yang saling mencintai.

***

namun hal ideal semacam itu rasanya cuma isapan jempol diantara kita berdua.
ternyata aku salah mengenai perasaan kamu. sakit sekali. fakta bahwa kamu membuka hatimu pada orang lain, memberikan kesan bahwa; kamu tidak bahagia bersama aku. dan aku tidak ingin kamu tidak bahagia.

aku tidak pernah tau kalau perasaan ini mengembang seperti alam semesta. aku tidak pernah melihat ujungnya. perasaan aku sama kamu tidak berujung. kamu tidak pernah tau, sebesar apa rasa sayang itu. dan maaf bila aku memberi kamu kebimbangan karenanya.

bagaimanapun juga, jika ingin mengakhiri ini mari mengakhirinya dengan baik. datanglah padaku kapanpun kamu mau, setidaknya biarkan aku memiliki saat-saat terakhir yang bisa aku kenang dengan senyum bersama kamu.

Wednesday, 4 August 2010

you lost me

I am done
Smoking gun
We've lost it all
The love is gone

She has won
Now its no fun
We've lost it all
The love is gone

And we had magic
And this is tragic
You couldn't keep your hands to yourself

I feel like our world's been infected,
And somehow you left me neglected

We've found our lives been changed
Babe, you lost me

And we tried
Oh, how we cried
Oh, we lost ourselves
The love has died

And we had magic
And this is tragic
You couldn't keep your hands to yourself

Oh, I feel like our world's been infected
And somehow you left me neglected
We've found our lives been changed
Cause babe, you lost me

Now I know you're sorry
And we were sweet
Oh, but you chose lust when you deceived me
And you'll regret it, but it's too late
How can I ever trust you again?

I feel like our world's been infected,
And somehow you left me neglected
We've found our lives been changed
Oh babe, you lost me

Tuesday, 3 August 2010

fool

you make me sick.
jangan bilang kamu peduli dengan menangis dihadapanku saat aku minta kamu pergi.

aku tidak pernah meminta kamu mendatangi hidupku.
dan tidak pernah meminta kamu tinggal.

lalu sekarang kamu menghilang.

Wednesday, 14 July 2010

kamu adalah ruang kosong itu

.......
dan aku tidak akan bertanya mengenai pandangan hidupmu. 

namun semakin aku jauh dari rumah, semakin aku mampu menghargai hal hal yang Maha kecil. pada saat pertama aku ingin kemari, yang mendominasi pikiranku adalah: aku pergi. bebas. merdeka.  ya, itu memang benar, bukan? tapi disaat bersamaan, satu-satunya yang merengkuhku kedalam hidup yang sebenarnya adalah fakta bahwa: kamu harus survive dalam sendirian. apapun yang ada didepan jalan. ada rasa cemas, ada rasa takut. dan pada saat itu, aku menyadari, bahwa orang tidak sepenuhnya merdeka jika ia masih diliputi rasa takut. jadi aku berpikir, bahwa aku sedang tidak sepenuhnya pergi, entah pemikiran macam apa itu. 
...
aku ingat, aku pernah berlaku seperti ini. bicara pada orang yang sudah tidak mau mendengarkan. 
tapi bersabarlah, sewaktu-waktu aku akan selalu mencari ruang kosong itu. maaf dan terimakasih. 
ammalia

Sunday, 23 May 2010

...

ya Tuhan, jika ia memang untukku, tunjukkanlah jalan-Mu

Monday, 17 May 2010

masih di area tunggu

melihat perubahan.

melihat rasa sakit yang tercuil sebagian demi sebagian. dipaksa keluar.
tapi aku berada di area tunggu.

"tunggu dan bersabaralah" seru diriku.
hidup merupakan titipan--bukan hanya milikku seorang. dan apa yang kuinginkan sekarang datangnya dari segala penjuru. tertanam dalam benak, terbawa selama belasan tahun.

caraku memandang perubahanpun mulai berubah.

tidak seistimewa bayanganku.
karena aku masih menunggu.

Friday, 1 January 2010

area tunggu

duduk disini, mengingatkan aku pada kegugupan ketika guru sekolah dasar mengabsen nama satu-satu sebelum meminta setiap siswa maju kedepan kelas untuk menjawab pertanyaan di papan tulis. dan rasanya, namaku dipanggil begitu cepat bahkan sebelum aku dapat mengingat pertanyaannya. 
duduk disini, seperti ini, berlalu seperti abu. 
beberapa saat lagi, waktuku pulang dan setelah itu waktunya pulang. 
kehidupan berlalu-lalang didepan penglihatan, seolah tergesa dan mengejar ketertinggalan yang belum sia-sia. aku tak bisa bergerak berenergi seperti kehidupan itu meski aku ingin. menanti membuatku diam dan berdegup kencang.
dia disampingku saat ini. tanpa bisa kuraih.

menerka apa yang ada dihatinya bukanlah perkara mudah, maka dengan segala kerumitan benang pintal, aku akan menebak apa yang ada didalam pikirannya karena tidak mampu merasakan perasaannya. entah mana yang jauh lebih sederhana. 
darinya tampak tidak pernah cukup, padahal dia sudah memberi banyak dan aku selalu kelaparan meminta lebih banyak lagi. bukankah itu berbahaya. 
saat dia hilang kesabaran dari perisai menahan serangan asumsi, tentulah ucapannya setajam belati (saat ini aku merasa dia akan jujur dengan situasinya) dengan mengatakan dia tak berusaha memahamiku sungguh-sungguh untuk melindungi dirinya sendiri dari patah hati. bukankah itu terlalu kejam? karena itukah rasanya seperti tidak pernah cukup? 

ah, menunggu apa aku? baru saja aku dengan sengaja melewatkan keretaku.

*aku menengok kedai fast food dibelakang, ide es krim dimusim dingin mungkin bukan gagasan cerdas. ide makan bersama kali ini mungkin bukan gagasan cemerlang setelah hampir dua minggu membenamkan diri berdua. dia butuh waktu sendirian, baiklah*

mengapa duduk begitu jauh? 
mengapa tidak mendekat kemari dan menggandengku?
menit ke empat puluh delapan kamu akan pulang dan aku setengah mati jatuh cinta padamu.
dan setengah mati kedinginan.
aku nyaris bahagia waktu kamu melingkarkan tanganmu kepundakku. diam diam saja.
mengapa segera kamu lepaskan kemudian?
seperti ketika kamu mengulurkan tanganmu untuk aku genggam. tapi kamu tak pernah sungguh-sungguh menggenggamnya seolah kamu tidak pernah takut kehilangan aku.