duduk disini, mengingatkan aku pada kegugupan ketika guru sekolah dasar mengabsen nama satu-satu sebelum meminta setiap siswa maju kedepan kelas untuk menjawab pertanyaan di papan tulis. dan rasanya, namaku dipanggil begitu cepat bahkan sebelum aku dapat mengingat pertanyaannya.
duduk disini, seperti ini, berlalu seperti abu.
beberapa saat lagi, waktuku pulang dan setelah itu waktunya pulang.
kehidupan berlalu-lalang didepan penglihatan, seolah tergesa dan mengejar ketertinggalan yang belum sia-sia. aku tak bisa bergerak berenergi seperti kehidupan itu meski aku ingin. menanti membuatku diam dan berdegup kencang.
dia disampingku saat ini. tanpa bisa kuraih.
menerka apa yang ada dihatinya bukanlah perkara mudah, maka dengan segala kerumitan benang pintal, aku akan menebak apa yang ada didalam pikirannya karena tidak mampu merasakan perasaannya. entah mana yang jauh lebih sederhana.
darinya tampak tidak pernah cukup, padahal dia sudah memberi banyak dan aku selalu kelaparan meminta lebih banyak lagi. bukankah itu berbahaya.
saat dia hilang kesabaran dari perisai menahan serangan asumsi, tentulah ucapannya setajam belati (saat ini aku merasa dia akan jujur dengan situasinya) dengan mengatakan dia tak berusaha memahamiku sungguh-sungguh untuk melindungi dirinya sendiri dari patah hati. bukankah itu terlalu kejam? karena itukah rasanya seperti tidak pernah cukup?
ah, menunggu apa aku? baru saja aku dengan sengaja melewatkan keretaku.
*aku menengok kedai fast food dibelakang, ide es krim dimusim dingin mungkin bukan gagasan cerdas. ide makan bersama kali ini mungkin bukan gagasan cemerlang setelah hampir dua minggu membenamkan diri berdua. dia butuh waktu sendirian, baiklah*
mengapa duduk begitu jauh?
mengapa tidak mendekat kemari dan menggandengku?
menit ke empat puluh delapan kamu akan pulang dan aku setengah mati jatuh cinta padamu.
dan setengah mati kedinginan.
aku nyaris bahagia waktu kamu melingkarkan tanganmu kepundakku. diam diam saja.
mengapa segera kamu lepaskan kemudian?
seperti ketika kamu mengulurkan tanganmu untuk aku genggam. tapi kamu tak pernah sungguh-sungguh menggenggamnya seolah kamu tidak pernah takut kehilangan aku.