Apa jadinya jika tidak bisa dibedakan lagi antara cinta dan karena terbiasa?
Aku sudah berhenti berharap sejak terlalu banyak bermimpi mengenai hal yang tak mungkin. Menyerah mengenai segalanya adalah apa yang satu-satunya nyata untuk saat ini. Penyerahan bisa diartikan lain, untukku itu berarti bersikap realistis, memulai segalanya dengan menerima apa adanya. Pasrah. Tapi aku tak menganggap kepasrahan sebagai penghanyutan diri dalam arus deras yang boleh menindas pribadi semau-maunya, meskipun perlahan dia membiarkanku terjebak dalam lingkaran tak berkesudahan, membunuhku diam-diam.
Dia , sesosok utuh yang mulai tak kupahami lagi sebagai suatu kebenaran. Aku lelah kembali padanya, apa gunanya kalau kebenaran berdiri dihadapanku, dingin dan telanjang, tidak peduli apakah aku mengenalinya atau tidak dan membuatku takut bukannya percaya?
Ketika mereka-reka gambaran masa depan yang menggelisahkan. Katanya aku terlalu banyak berpikir, sementara bagiku tak ada sedikitpun yang dia pikirkan. Itulah keresahanku. Yang sungguh-sungguh tidak dia miliki adalah kejelasan, apa yang mesti dilakukan, bukan apa yang mesti diketahui. Dan aku benar-benar bosan memastikan keberadaannya, mencari gagasan yang menentukan hidup mati dirinya.
Sesuatu darimu, berkarat di dalam tulang sumsumku. Menyedotnya tak akan membantu. Sudah tertanam disana. Jauh dalam lipatan dan alur seperti serat mangga yang terselip di antara gigi-gigi. Tak mungkin dilepaskan tanpa usaha.
No comments:
Post a Comment