Mungkin aku memang harus memuntahkannya dulu, menelannya lagi lalu mencernanya dari awal. Dan, rasanya jadi tak sepahit kerisauanku. Masalah terkadang seperti gema, yang kau tangkap berupa sisanya, layaknya kilauan dari bintang-bintang yang berjarak ribuan cahaya darimu meskipun beberapa bintang tersebut bahkan sudah lama tiada atau berubah menjadi sebuah titik merah yang kerdil. Hal itu membuatku merasa begitu kecil, sekali-kali ada baiknya jika aku menyepelekan masalah menjadi tak terlalu berarti agar aku tidak menjadikannya pertimbangan yang perlu dipersoalkan ketika memperhitungkan sesuatu.
Tapi aku masih memiliki prasangka, bukan mengenai alasan peristiwa yang telah berlalu namun mengenai hal-hal yang nanti akan terjadi. Tidak perlu cemas menurutku, memiliki prediksi dan perhitungan bukanlah sesuatu yang dapat membuatku masuk rumah sakit karena gagal ginjal apabila terjadi kesalahan. Ada yang dinamakan titik balik. Aku ingin tetap menginjak bumi meskipun tengah bermimpi, tak ingin lagi lepas kendali dan menyakiti diri sendiri. Ada rahasia bersemayam yang kadang membuatku keliru dan kewalahan, lalu aku akan segera berlari menembus hujan atau menanjak bukit mencari tanah yang bersedia untuk kujadikan tempat pembaringan yang menenangkan.
Tak ada apa-apa selain misteri di dunia ini, betapa misteri bersembunyi di balik hari-hari yang malang seperti penjilat, yang bersinar dengan terang, dan bahkan tak ada yang mengetahuinya. Aku membayangkan sejumput kenangan menari-nari dan menderu seperti layaknya air terjun yang terhempas ke muara. Ketika datang waktunya, memori-memori yang utuh dan bersama itu akan satu persatu terlepas dari untaian. Lagi dan lagi.
Tidak ada yang berlangsung selama-lamanya
Rasa sakit,
Kebahagian,
Sendiri,
Kekasih,
Ps: Hukum kekekalan masalah ; masalah tidak dapat dihilangkan, namun dapat berganti rupa.
No comments:
Post a Comment