bahkan dia belum sempat melepaskan tas yang terselempang di bahunya, belum sempat membuka sepatu dan menyalakan lampu, namun dia bergegas masuk kamar, menyalakan komputer untuk menyambut yang dia nantikan sepulangnya kerumah. sebuah email.
didapatinya mail baru. 1 inbox. itupun sudah lebih dari cukup. bila memang datangnya dari orang itu, dia senang bukan main.
membaca mail itu, membuat ingatannya mengudara ke masa kritisnya. ada sensasi sepi dan putus asa yang menjadikannya tidak peka. kesepian dapat membunuh. dan walaupun dia adalah manusia yang kuat, namun kehabisan tenaga akan sukacita mampu membalikkan harapannya jadi mimpi siang bolong, rindunya jadi sakaw, dan sedihnya menjadi tragedi. bertahan hidup dan bangkit dari segala keraguan merupakan agenda yang harus dia penuhi sebelum dia berjalan meneruskan apa yang telah dia mulai.
perhatikanlah hatinya, selalu ada ruang kosong untuk tempat berbagi. begitu disadari,orang itu telah menghampiri. mungkin untuk mampir sejenak. dia sedang tidak bisa menolak. seharusnya tidak masalah. bukan begitu?
dengan perasaan yang mungkin tidak sebanding dengan yang diberikan orang itu pada dia, orang itu begitu menyayanginya. entah sampai kapan. tapi biarlah seperti itu dulu. dia ingin sekali mengatakannya dengan egois "tetaplah sayangi aku"
No comments:
Post a Comment